Just another WordPress weblog
Friday September 10th 2010

Heaven is on the bottom of mother's foot

Mother

Mother

Suatu ketika ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah Saw meminta izin untuk ikut andil berjihad bersama Rasulullah Saw, maka beliau bertanya, “Adakah engkau masih memiliki ibu?”. Orang itu menjawab, “Ya, Masih. ” Kemudian beliau bersabda, “Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu. Karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya”.

‘Surga di bawah telapak kaki ibu’, demikian petikan bunyi hadits yang sering kita dengar sebagai ungkapan yang sering disitir banyak orang. Dan semua orang membenarkannya.  Saya juga temui pengertian pepatah ini dengan arti  “A person who loves/cares about their mother is doing the best deed” atau eseorang yang mencintai/peduli tentang ibu mereka yang melakukan perbuatan yang terbaik. Jadi pepatah itu lahir bukan dari statement seorang IBU, yang mebusungkan dada, memamerkan kuasanya atau jasanya yang terhingga. Namun terlebih statement seorang Nabi yang mengajarkan kebaikan kepada seorang anak untuk menghormati ibunya dan sebaliknya mengingatkan seorangibu agar berperan sebagaimana mestinya kepada anaknya.  Statement ini tidak akan ada artinya apabila semua anak dan para ibu di dunia ini tidak menyadari arti dibalik itu.

Sebenarnya saya rasa tidak perlu diperdebatkan ibu seperti apa, karena tujuan dari statement itu bukanlah bertujuan menilai ibu seperti apa atau surga seperti apa yang ada di telapak kaki ibu.  Namun kalau mau didefiniskan secara tepat, semua ibu yang diakui seseorang. Kenapa saya batasi dengan seorang ibu, karena ibu yang dimaksudkan di sini bukan saja ibu kandung tetapi bisa saja ibu angkat, ibu kost mungkin dan ibu lainnya yang berperan dalam hidup kita sebagai seorang anak.  Sedangkan diakui “seseorang”, saya juga tidak membatasi hanya sebagai anak kandung, tetapi bisa jadi anak tiri, anak angkat, dan setiap anak yang mampu dan mengakui seorang ibu yang berperan dalam hidupnya. Peran seperti apa ? melahirkan, mendidik, membesarkan, menafkahi, membimbing, menjaga, merawat dan lain sebagainya. Sehingga tidak terbatas pada ibu yang berperan hanya sebatas melahirkan saja. Ada ibu yang melahirkan seorang anak, tetapi tidak dapat menunaikan kewajiban lain mendidi, membesarkan, menyayangi dan lain sebagainya.

Sehingga tujuan dari “pepatah” (Hadist)  ini sebenarnya ditujukan kepada seorang anak yang harusnya berbakti kepada “ibu” (bisa juga lebih) yang berperan dalam hidupnya.   Berbakti bukan saja membalas jasa dengan sejumlah materi tertentu, atau membalas jasa dengan berbalik memberikan apa yang sebelumnya pernah diberikan oleh seorang ibu. Jasa ibu yang demikian besar tidak bisa dibalas oleh seorang anak, walau dengan emas dan permata setinggi gunung sekalipun. Pemahaman yang demikian penting diresapi bagi ‘seorang anak’ agar ia mampu mengoptimalkan kebaktiannya kepada ibunya (orang tuanya).

Dan hadits “surga di bawah telapak kaki ibu” itu menyimpan sisi hikmah yang agung bagi seorang ibu agar menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan anak-anaknya karena kebaikan sang anak (surga) tergantung dari langkah kaki (upaya pendidikan) dari ibunya.

Seorang ibu yang selalu menapakkan langkahnya menuju kemaksiatan, maka sentuhan pendidikannya adalah penuh kemaksiatan. Kemaksiatan yang tertanam pada seorang anak ini bisa menghantarkannya kepada neraka. Contoh kecil saja bagaimana seorang ibu yang senantiasa berdusta kemudian ia memberikan sentuhan pendidikan kepada anaknya pun dengan dusta. Maka wajarlah jika kebiasaan dusta itu menurun kepada seorang anak. Padahal Rasulullah Saw telah bersabda barang siapa yang berkata dusta, maka kedustaannya itu akan menghantarkannya pada keburukan, dan keburukan itu akan menghantarkannya pada api neraka.

Alangkah indah jika ungkapan di atas dipahami secara bijak oleh seorang anak dan juga seorang ibu. Seorang anak lebih melihat kepada ‘kewajiban berbakti’ dan seorang ibu akan lebih melihat kepada ‘kewajiban mendidik’. Jika demikian adanya, maka tidak akan pernah terjadi konflik yang mempertentangkan antara orang tua dan anak. Sebaliknya, suasana kehidupan keluarga terasa sangat kondusif buat menumbuh-suburkan potensi kebajikan yang akan menghantarkan mereka semua kepada surga Allah nan abadi kenikmatannya.

Saat ini kita melihat peran seorang ibu yang demikian strategis itu banyak ditinggalkan dan dilupakan oleh sebagian para ibu. Mereka lebih suka mengerjakan tugas lain selain tugas merawat dan mendidik anak. Seharusnya, bagaimana pun kesibukannya pekerjaan merawat dan mendidik anak adalah pekerjaan prioritas di atas pekerjaan yang lain. Tugas merawat dan mendidik anak bukanlah pekerjaan sepele. Dia membutuhkan profesionalitas. Bagaimana tidak? Tugas yang mengantarkan pada pencapaian sumber kebahagian yang semu saja (duniawi) membutuhkan profesionalitas, bagaimana dengan tugas yang menghantarkan pada kekuatan generasi yang menghantarkan pada kekuatan ummat? Padahal di dalam kekuatan ummat itulah potensi-potensi kebajikan yang menghantarkan pada kebahagian abadi (surga) bisa dioptimalkan? Jelas bahwa tugas demikian sangat membutuhkan profesionalitas, bahkan harus.

Fenomena penyimpangan perilaku sang anak yang kemudian ditelusur ternyata akibat pendidikan yang salah dari orang tua, menyadarkan akan kebenaran bahwa ‘surga sang anak itu memang berada di bawah telapak kaki ibunya. ’ Dalam kisah paman saya, keberhasilan studi sang paman (keberhasilan dunia) adalah berkat didikan kerja keras ibunya. Dan seorang anak yang akan menghantarkanya ke surga akhirat, adalah berkat didikan dari ibunya juga.

Semoga kita bisa mengoptimalkan rasa bakti kita pada orang tua kita pada satu sisi, dan mengoptimalkan daya didik kepada anak-anak kita pada sisi lainnya. Semua harus dijalankan secara terpadu, seimbang dan harmonis, demi lahirnya potensi-potensi kebaikan yang menghantarkan ke surga

Sebgaian disadur dari eramuslim.com by oleh Muhammad Rizqon

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay
  • MySpace
  • PDF
  • StumbleUpon

Leave a Reply